Rabu, 07 November 2012

STRUKTUR KEDATUAN LUWU (Sebuah Pengantar)


Oleh: AWW


Mengurai benang merah diantara begitu banyaknya para peneliti dan penikmat budaya di Tana Luwu adalah hal-hal yang sangan dirindukan dan selalu dikejar tetapi yang terjadi lain dari apa yang diharapkan. begitu juga kami sebagai penulis berusaha untuk memilah dan memilih serta mencari rangkaian-rangkaian adat istiadat yang telah banyak dilupakan oleh orang-orang Luwu  diantara rangkaian-rangkaian tersebut ada beberapa yang kami dapatkan dari para leluhur dan para nenek moyang kami yang mungkin saja hal ini menjadi tabu untuk diungkapakan di depan publik.

Di zaman modern saat ini mungkin sudah tiba saatnya untuk diungkapkan dengan berbagai alasan yang tak mungkin lagi dielakkan. Kedatuan Luwu (Kerajaan) berdiri telah lama sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada. Dari tiga kerajaan terbesar yang ada di Sulawesi Selatan yaitu; 1) Kerajaan Luwu (Kedatuan Luwu), 2) Kerajaan Bone (Mangkau ri Bone), 3) Kerajaan Gowa (SombaE ri Gowa). Kerajaan Luwu lah yang menjadi patokan dan menjadi pilar dari kerajaan Bone dan Gowa dengan bukti sejarah mengatakan bahwa Kedatuan Luwu memiliki gelar Pajung ri Luwu, hal ini menandakan bahwa jika anda penikmat dan peneliti budaya di Sulawesi Selatan anda harus datang dulu ke Tana Luwu, apa dan bagaimana sebenarnya sejarah yang terkandung dalam Kerajaan Luwu. Hal ini juga diperkuat oleh dengan adanya beberapa benda-benda atau situs sejarah yang dibawa oleh Pemerintah Kolonial Belanda (Penjajah) pada saat itu, yaitu salah satunya adalah Kitab Lontara Ilagaligo yang mungkin saja semua orang tahu tetapi masih ada selain daripada Kitab Lontara, antara lain; Selimut Emas (Arajangnge), yang sampe saat ini tidak pernah diungkapkan oleh Pemerintah Belanda dan tidak pernah mengungkapkan baik secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah Indonesia umumnya dan Pemerintah Luwu pada khususnya. 

Kami yakin bahwa disuatu saat kami akan memberikan bukti dan penjabaran tentang situs-situs yang telah direbut oleh Pemerintah Belanda. Kami berharap pada para pembaca untuk menunggu hasil dari pada restu dari para leluhur kami dan nenek moyang kami. saat ini kami telah mengumpulkan bukti yang konkret dan beberapa keterangan-keterangan dari beberapa kerabat Istana Kedatuan Luwu.

Ada beberapa struktur jabatan dalam Kedatuan Luwu:
1. Datu Luwu (Pajung Luwu)
2. Opu Cenning (Wakil Datu)
3. Para Menteri :
    (1). Opu To Marilaleng (menteri dalam negeri)
    (2). Opu To Patunru (menteri pertahanan dan keamanan)
    (3). Opu To Balirante (menteri luar negeri)
    (4). Opu To Pabbicara (menteri sekretaris negara)
4. Matoa 
    (1) Matoa Wage
    (2) Matoa Cendrana
    (3) Matoa Anre Guru Anattoriolong
5. Kepala Wilayah
    (1) Makole Baebunta
    (2) Maddika Bua
    (3) Maddika Ponrang

keterangan struktur jabatan di Kedatuan Luwu:
  1.  Datu luwu adalah simbol tertinggi di kerajaan Kedatuan Luwu tetapi ada yang lebih tinggi setelah Datu yaitu Pajung karena datu belum tentu menjdi seorang Pajung tetapi pajung secara simbolik akan menjadi seorang Datu.prosesi adat di kedatuan luwu sangat sakral dimana seorang datu adalah berasal dari anak raja yang tertua (anak sulung laki-laki) yamg biasanya bergelar "Andi Bau" sewaktu belum menggantikan posisi ayahnya menjadi datu, setelah ayahnya mangkat maka akan ada proses adat yang berdiskusi dan merumuskan serta diumumkan sebelum ayahnya (Datu) dikebumikan. adat 9 (ade' asera) yang akan mengambil kekuasaan selama proses diskusi dan merumuskan calon pengganti Datu Luwu. dan kebiasaan yang telah lama ada dari para leluhur Kedatuan Luwu biasanya akan mengumumkan anak tertua laki-laki dari Datu Luwu yang telah mangkat. setelah diumumkan maka Datu yang mangkat dibawa kepemakaman para raja-raja yang disebut sebagai LokkoE'. setelah prosesi pemakaman Datu dilaksanakan maka calon Datu yang baru akan melaksanakan proses pengangkatan Datu yang baru dengan dirangkaikan dengan mengundang para pemangku adat se-kedatuan luwu diantaranya adalah Pangngulu' Kada, Tomakaka, Arung Larompong, Jannang Suli,  Jannang Cilallang, Parengnge, Macoa Bawalipu, Latte Padang Rongkong, Arung Malili, to Bara, dan perangkat adat lainnya. setelah proses adat dihadiri oleh seluruh perangkat adat kedatuan Luwu dan seluruh lapisan rakyat tana luwu dengan menyaksikan pengangkatan Datu Luwu yang baru. masa-masa menjabat seorang Datu akan nampak dari kesejahteraan rakyatnya baik segi ekonomi, budaya, hukum, politik dan keamanan, maka rakyat menyampaikan kepada perangkat adat diwilayah masing-masing bahwa Datu layak untuk dikukuhkan sebagai Pajung Luwu. proses Pajung Luwu tidak mudah begitu saja tetapi melalui proes adat yang harus jalankan oleh seorang Datu yaitu Datu harus meninggalkan Istana selama 3 (tiga) hari berturut-turut tanpa membawa kemewahan dan fasilitas dari istana dengan membawa pakaian seperti rakyatnya dan alat masak alat kadarnya dan berbantalkan ala kadarnya. berkeliling di tana luwu seorang diri mencari makan sendiri, memasak sendiri dengan maksud dan tujuan bahwa seorang Pajung Luwu harus merasakan penderitan rakyatnya. dan setelah melewati selama 3 (hari) berturut maka barulah diadakan proses adat untuk pengangkatan sebagai seorang Pajung Luwu.
  2. Opu cenning adalah yang boleh dikatakan sebagai pengganti (wakil dari Datu) jika Datu berhalangan hadir pada acara-acara adat, menjamu tamu kerajaan baik dari dalam kedatuan Luwu maupun diluar kedatuan luwu.opu cenning juga merupakan simbol yang tidak bisa dilupakan karena peranannya tidak sedikit dalam menghadiri setiap kegiatan kedatuan luwu, opu cenning dipilih dari salah satu anak dari Datu luwu yang lebih cakap dalam melihat suatu persoalan kedatuan dan atau saudara laki-laki datu luwu atau anak kedua laki-laki. opu cenning mengambil peran yang tidak gampang karena segala kewenangan Datu akan diambil dan perintah langsung dari Datu Luwu.
  3. Opu To Marilaleng atau biasa juga disebut sebagai menteri dalam negeri sangat besar peranannya dalam mengatur roda kerajaan Luwu dimana setiap permasalahan adat yang atau ada titah dari Datu Luwu yang akan disampaikan kepada setiap perangkat adat Luwu maka Opu To Marilaleng memanggil Opu To Patunru, Opu To Balirante, dan Opu To pabbicara'  untuk membahas persoalan kedatuan di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang dengan pertimbangan dimasa yang lalu,salah satu contoh yang pernah terjadi dikedatuan Luwu adalah menetapkan batas-batas wilayah setiap perangkat adat luwu sehingga tidak terjadi pengaturan yang salah sasaran karena ditana' luwu ada 9 bahasa yang diatur oleh masing-masing perangkat adatnya agar rakyatnya tidak kebingungan dalam  menetapkan aturan yang akan dijalankan. Opu To Marilaleng juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Datu akan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan dan orang yang menduduki jabatan Opu To Marilaleng adalah dari saudara kandung atau yang paling jauh adalah saudara sepupu Datu.


Struktur jabatan ini sering kali menjadi perdebatan sengit dan menjadi tolak ukur apa dan bagaimana Kedatuan Luwu dapat eksis dan survive sampai sekarang ini. untuk itu kami sebagai penulis mencoba untuk merangkai sejarah melalui struktur yang telah ada sejak dulu kala sampai sekarang ini. 

Untuk para pembaca sekedar informasi bahwa bagaimana Kerajaan Luwu berdiri yang dimulai dari pemilihan Datu Luwu, acara-acara sakral di Kedatuan Luwu, sampai luas wilayah di Kedatuan Luwu.....








tunggu kami dipemaparan selanjutnya. terima kasih.
(to be continue.....)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar